Kagendra Mahasura
Blog Sastra
Selamat Datang
Ini puisiku, kemari, mari berbagi
Minggu, 07 November 2010
Pulang
tepat seperti suasana kali ini, kembali ku ingat kau
aku berjalan disamping lalu lalang mobil
menuruni tanjakan untuk pulang
malam tanpa kilau bintang ketika menengadah
kabut partere turun mengendap, endapkan seluruh harap
kurasa ini saatnya aku tinggalkan kau dengan ratap
Surat
Aku mengirimkan padamu beberapa pesan hati
Dari celoteh yang kau dengarkan padaku tentang arti sebuah lelucon
Memang pesan-pesan itu tak sampai padamu
Mungkin aku yang tak tahu alamat hatimu
Atau mungkin pesanku yang dibiarkan tak terbaca
Barangkali kau ingin menghampiri kotak suratmu untuk sejenak
Aku ingin kau membaca pesan hati yang mungkin kau pun ingin membacanya
I.
Jika tiada yang tersisa, matahari yang kutitipkan padamu
Biarkan aku saja yang terus menyimpan sisa cahayanya
Sampai ke tanah kuburan, lalu kuceritakan semuanya kepada Tuhan
Tuhan, aku mencintainya
II.
hawa dingin mencari pori-poriku yang terbuka
dia ingin aku merasakannya
kesendirian yang dia bawa dari utara
inginnya melempar tangis
lirih sekali
III.
Jangan kau datang sekarang
Aku sedang tak ingin ambil peduli
Ambil saja sendiri
Nyanyi di kerasnya dingin, mungkin ini reffrainnya
Selonjorkan kaki dengan bahu yang bersandar pada tembok usang
Rasanya aku ingin membunuh kalian semua dahulu
Namun setelah ini kumau kalian hidup kembali
Sebentar saja, aku ingin abadi
IV.
matahari menembus raga, ruhku terlepas
menari-nari, menjelma alam
V.
dan jika kau tahu akulah malam yang dibaptis senja
siang telah berlalu, pagi pun akan kutelan
Pertempuran Senja: Meraih Mentari Tenggelam di Lembayung Timur
Meraih mentari tenggelam di lembayung timur
Inilah pertempuran senja,
Aku robek muka laut yang menawannya dalam-dalam
Tinju usang melesat ditelan ombak
Dan pasang memastikan mentari tetap karam
Mentari tetap tenggelam,
Tuhan menetapkan titik pembalik untuk segalanya
Diantara ombang ambing gelombang
Semua suara tak ku dengar selain purnama bulan
Semua memori menjelma kembali untuk terakhir kalinya lalu hilang
Tak ada jatah lagi untuk ku
Selain perubahan arah angin untuk melaut
Dari sebuah pelabuhan kecil angin itu berhembus
Bernama Pelabuhan Harapan, semua harapan berlabuh dan bertolak di sana
Bandung, Sept 09
Debu Angkasa
Rembulan berkata padaku tentang debu yang lain
Yang mengawang tapi tak mengendap
Yang tak dapat juga kau raba bahkan kematian
Debu angkasa, langlang buana yang mencapainya
Segera sayapku membara membakar cahaya utara
Sorotnya terbakar ikut imbas, berantas lipatan batas
Jauh sudah. Bubuk semangatku telah
Debu angkasa, aku tak genggam kau dalam raih
Dalam atmosfer himpit dua dunia, aku membeku
Anginnya kuhirup, airnya kutegak
Aku bicara, bahasa tak menggema
Ini bukan angkasa
Dari bumi aku terlampau jauhnya
Lebur jadi serpih debu angkasa
Atau balik terjerembab, hancur belulang berserakan
Sedang aku enggan ikut membenam
Bersama mayat dan bangkai yang mematahkan sayapnya
Oktober 2010
Mereka Pergi. Aku Menunggu
Seperti enggan menghinggapi tubuhku lagi
Berlarian pergi ke tempat dia merasukiku
Pikirnya mata airku habis, mungkin juga kecewa
Oleh tubuh kerontang, sedangkan dahaga kehidupan mereka tumpah
Kembalilah kawan setelah sempat kau berpulang
Aku adalah rumahmu yang kau tamfikan
Menjadilah satu kembali jadi bait yang luas,
Larik menggelitik atau larik menggetarkan
Ketika sinar matahari masih bisa kau genggam
Ketika itu menunjukanmu arah jalan ke rumah yang kau tamfikan
Oktober 2010
Langganan:
Postingan (Atom)